Home News Berita National Curangi Ujian Masuk Kampus dengan Smartwatch, Begini Modusnya

Curangi Ujian Masuk Kampus dengan Smartwatch, Begini Modusnya

216
0
SHARE
Curangi Ujian Masuk Kampus dengan Smartwatch, Begini Modusnya
MixParlay
MixParlay

THEJAKARTANEWS – Kecurangan yang dilakukan 19 peserta pada ujian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya pada Sabtu (28/7) rupanya telah dirancang dengan rapi.

Wakil Ketua Panitia pelaksana PMB Sugiantoro mengatakan, meskipun pengamanan ruang ujian sudah cukup ketat, namun modus yang dilakukan oleh para peserta cukup rapi hingga dapat meloloskan smartwatch. Untung saja pengawas ujian menangkap gerak-gerik mencurigakan dari peserta tersebut.

1. Pengawasan ruangan cukup ketat

Sugiantoro mengatakan, pengamanan yang dilakukan di ruang ujian sudah cukup ketat. Peserta ujian sudah dilarang untuk membawa alat komunikasi seperti HP dan jam digital. “Padahal tadi waktu mau masuk ruangan sudah pakai metal detector lengkap tapi ini enggak terdeteksi,” ungkapnya.

Selain itu, ruangan ini juga dilengkapi denganfinger print. Sehingga akses masuk ruangan harus menggunakan sidik jari peserta agar mencegah adanya joki ujian. “Karena untuk masuk ruangan harus finger print. Kalau masuk harus pakai itu,” terangnya.

2. Smartwatch disembunyikan di gesper

Rupanya, ketika ditanyai lebih lanjut, peserta tersebut berhasil meloloskan smartwatchnya dengan cara menaruh di balik gesper. Sehingga ketika metal detector berbunyi, pengawas ruangan mengira hal tersebut diakibatkan oleh gesper yang dikenakan. “Ternyata dia sudah di-briefing timnya. Memang wajib pakai gesper,” imbuhnya.

Smartwatch ini digunakan untuk mengontak pihak luar agar mengirimkan kunci jawaban ujian yang menggunakan teknologi CBT (Computer Based Test).

3. Peserta telah di-briefing

Sugiantoro menambahkan, peserta ujian tersebut mengaku telah mendapatkan briefingdengan jelas oleh tim yang mengoordinir kecurangan ini. Namun peserta tersebut tidak bisa mengingat lokasi hotel tempatnya di-briefing. “Untuk hal itu masih kita selidiki,” ujarnya.

Ujian ke-19 peserta tersebut tentu saja dibatalkan oleh pihak panitia penyelenggara. Bahkan, sebelum ujian selesai, para peserta yang tertangkap basah berlaku curang segera dikeluarkan oleh pengawas ujian.

Namun Sugiantoro menambahkan bahwa pihaknya tidak akan melaporkan peserta tersebut ke pihak kepolisian. “Anak-anak ini korban jadi tidak diserahkan ke pihak berwajib. Mereka rata-rata dari luar kota Surabaya bahkan luar Jawa,” pungkasnya.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here