Home News Berita National Demokrat Sebut Prabowo Pernah Abaikan Naskah Pidato dari SBY

Demokrat Sebut Prabowo Pernah Abaikan Naskah Pidato dari SBY

9
0
SHARE
Demokrat Sebut Prabowo Pernah Abaikan Naskah Pidato dari SBY
MixParlay
MixParlay

THEJAKARTANEWS.COM – Politikus Partai Demokrat Cipta Panca Laksana mengatakan calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto pernah mengabaikan naskah pidato yang telah dikoreksi Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Itu terjadi saat Prabowo menyampaikan pidato kebangsaan di Jakarta Convention Center Januari lalu.

Kala itu, SBY hadir di acara mengenakan batik berwarna ungu.

“Pak SBY mendukung Pak Prabowo salah satunya ditujukan di Pidato Kebangsaan Prabowo. Bahkan naskahnya beliau koreksi sendiri. Setelah bolak-balik disepakati naskah akhir dengan durasi sekitar 40 menit. Tahu apa yang terjadi? Prabowo baca naskah lain 1,5 jam,” tutur Panca melalui cuitannya @panca66, Jumat (10/5).

Panca mengatakan keseriusan SBY salah satunya terlihat ketika mengoreksi naskah pidato. Namun, Prabowo justru menggunakan naskah lain. Panca menyayangkan kejadian tersebut. Terlebih, Prabowo kerap menyebut SBY sebagai mentor politiknya.

“Padahal naskah yang disepakati 40 menit, kalau itu dibacakan, akan sangat bagus. Tapi ya itu, pak Prabowo punya ide sendiri. Tapi yang sederhana aja enggak diikuti,” kata Panca.

Berkaca dari kejadian itu, Panca menegaskan tudingan Kivlan sama sekali tidak benar. SBY, kata Panca, jelas-jelas serius membantu Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2019.

“Sebelum ibu (Ani) sakit kami rutin meeting dengan bagaimana memenangkan Pak Prabowo,” kata Panca.

Kivlan menduga SBY tidak ingin ada jenderal lain yang menjadi presiden selain dirinya.

“Sampaikan saja bahwa SBY licik. Dia junior saya, saya yang mendidik dia, saya tahu dia orangnya licik, dia mendukung 01 waktu menang 2014,” ucap Kivlan.

Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief menanggapi pernyataan Kivlan. Dia mengkategorikan Kivlan sebagai orang yang kalah. Andi mengatakan dulu Kivlan kalah karena gagal mempertahankan Soeharto di kursi presiden.

Andi menganggap orang yang kalah, seperti Kivlan, cenderung menjadi mudah menyalahkan orang lain. Pula, mudah menuding orang lain berlaku licik.

“Bagi orang yang kalah dan tidak mengerti dimana letak kekalahannya maka paling mudah bilang orang licik,” ucap Andi.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here